Pages

Sawunggaling




Ahay.............
lagi-lagi aku dapat cerita bagus nich, ini cerita kalau tidak salah cerita rakyat berasal dari daerah jawa timur. jiahhhhhh dari pada basa-basi mending kita langsung simak aja yuk ceritanya ^_^.

Suatu kisah menyebutkan ketika Tumenggung Jayengrono berburu hewan di kawasan Lidah Danawati bertemu dengan gadis cantik putera Demang Suruh yang sedang mencuci baju di rawa Wiyung. Sebenarnya Tumenggung Jayengrono yang sudah mempunya dua putra yang bernama Sawungrono dan Sawungsari itu benar benar menaruh hati kepada gadis yang sedang mencuci baju tersebut…… kemudian dua orang pria wanita itu ternyata bagai gayung bersambut dan kemudian melakukan hubungan pria wanita, sampai Dewi Sangkrah hamil, kemudian dewi sangkrah diberi kain (cindhe) puspita sebagai pertanda kelak ketika anaknya lahir, kemudian adipati Jayengrono kembali ke Kadipaten Surabaya meninggalkan Dewi Sangkrah yang sedang mengandung.

Lahirnya sang bayi lelaki bersamaan dengan rawa Wiyung kejatuhan Ndaru (bintang) yang menyebabkan ikan ikan mati “berek” semua, oleh sebab itu bayi lelaki itu dinamakan dengan nama Jaka Berek.

Ketika Jaka Berek remaja (tetapi belum mengetahui perihal orang tua lelakinya) mempunyai peliharaan ayam Jago yang selalu menang dalam setiap aduan, kemudian pada satu kesempatan dia bertanya kepada ibunya tentang siapa sejatinya bapaknya… kemudian karena sudah dianggap cukup usia maka dijelasakna lah oleh sang ibu “ sebenarnya bapakmu adalah adipati di Surabaya yang bernama Jayengrono”. Kemudian si jaka berek memeohon di ijinkan untuk mencari bapaknya, kemudian ibunya memberikan cindhe (kain) Puspita sebagai tanda restu nya kepada jaka Berek, kemudian berangkatlah Jaka Berek ke pusat kadipaten Surabaya dengan membawa cindhe Puspita dan ayam peliharaannya.



Banyak sekali si Jaka Berek menemui permasalahan dan kesulitan dalam perjalananya, tetapi akibat niat yang kuat dan bukti cindhe Puspita akhirnya si Jaka Berek bisa menemuhi ayahnda nya yaitu Tumenggung Jayengrono, kemudian sang Ayahndanya pun memberikan nama baru untuk si Jaka Berek nama itu adalah “Sawunggaling”.

Tumenggung Jayengrono termasuk orang yang tidak suka kerjasama terhadapa orang orang Belanda. Oleh sebab itu belanda sering menggergoti bagaimana kedudukan sang Tumenggung goyah, oleh sebab itu Belanda membuat sayembara siapa yang bisa bergerak/bertarung menjaga sebuah garis sambil memanah umbul umbul ditengah lapangan akan diangkat menjadi Tumenggung di Surabaya, Tumenggung Jayengrono menyiapkan dua anak nya yang bernama Sawungrono dan Sawungsari untuk mengikuti sayembara itu.

Ketika Belanda membuat kontes siapa bisa memanah umbul umbul kebesaran di alun alun Surabaya akan menjadi pemilik Kadipaten Surabaya. Nah Adipati Surabaya sendiri tahu bahwa ini cuma akal akalan Belanda untuk menjajah secara tak langsung Kadipaten Surabaya. Karena jika sampai matahari terbenam tak ada yang berhasil memanah umbul umbul maka Kadipaten Surabaya jatuh menjadi milik belanda.

Alhasil, putra Adipati yang merupakan anak tirinya di desa mulai beranjak dewasa dan menanyakan dimana bapaknya kepada ibunya. Anak ini bertampang jelek dan bermental bloon. Selalu menamakan dirinya Reang, memanggil dirinya sebagai Wong Reang. Anak ini dinamakan Jaka Berek, ahirnya sang ibu berkata bahwa bapaknya itu adalah Adipati Surabaya. maka berangkatlah sang anak ini ke Kadipaten Surabaya.

Sesampainya disana tentu saja pengakuannya sebagai anak Adipati membuat geger keluarga Kadipaten dan terjadilah bentrok dengan pasukan Kadipaten, dan juga anak-anak dari istri Adipati yang sah. Bentrok dimenangkan oleh Jaka Berek. Setelah mengobrak abrik Kadipaten dan tak menemukan sang ayah Jaka Berek masygul, untung ada yang berkata bahwa Adipati sedang menghadiri upacara sayembara memanah umbul umbul di alun alun Kadipaten.

Jaka Berek datang dan membuat kegegeran disana, bahkan sang ayah Adipati Surabaya (entah Jayengrana atau Jayeng Puspita) yang tidak mengakui sang anak harus kalah takluk oleh kesaktian Jaka Berek. Sampai ahirnya sang ayah benar benar mengakui bahwa itu adalah anaknya yang dulu ditinggalkan di desa. mengetahui ayahnya mengakuinya sebagai anak gembiralah Jaka Berek.

Lalu Jaka Berek mengetahui bahwa ayahnya sedang murung, maka bertanyalah dia. setelah mengetahui bahwa kemurungan ayahnya akibat dari masalah sayembara maka Jaka Berek pun bersedia maju untuk mengikuti perlombaan. Rupanya keinginannya dihalang-halangi saudaranya yang bersekutu dengan wakil Sunan Mataram. Ahirnya dengan berbagai alasan maka Jaka Berek dilarang ikut lomba. Untunglah Cakraningrat Bupati Madura yang hadir sebagai pengawas sayembara itu mempertaruhkan posisinya demi ikutnya Jaka Berek dalam sayembara itu.


Karena itu Jaka Berek sangat hormat kepada Cakraningrat, dia bersujud dan minta doa restu. kepada ayahnya dia juga minta doa restu, dan dipanahlah umbul umbul itu sampai jatuh dan menjelang matahari terbenam sayembara itu terpecahkan. Dan, Jaka Berek memenangkannya. Kadipaten Surabaya menjadi miliknya. Saudara-saudaranya masih juga belum sadar dan terkena hasutan wakil Sunan Belanda, mereka bekerja sama menyerang Kadipaten.


Alasan yang dipakai adalah tak pantas anak bloon, dan kampungan seperti Jaka Berek menjadi Adipati. Maka saat itu Jaka Berek meminta restu dari Cakraningrat, dan ayahnya kemudian dia menjelma menjadi seorang pemuda tampan yang kemudian bergelar Sawunggaling.

Pemerintah Belanda tidak menyetujui kalau sang Sawunggaling menjabat Tumenggung, oleh sebab itu Belanda membuat peraturan lagi dengan disuruhlah sang Sawunggaling membabat Hutan Nambas Kalingan yang terkenal menakutkan. Ternyata tugas itu dilaksanakan dengan hasil gemilang. Akan tetapi hal itu belum memuaskan dari Belanda, Belanda mencoba berbagai macam tipu muslihat. Dengan mengadakan perayaan kemenangan sang Sawunggaling, di pesta tersebut minum sang Sawunggaling dicampuri racun oleh Belanda akan tetapi untungnya ada adipati Cakraningrat dari Madura yang menampel gelas tempat minum dari sang Sawunggaling akibatnya minuan itu tertumpah. Pada awalnya sang Sawunggaling marah dengan perlakuan adipati Cakraningrat, tetapi setelah dijelaskan duduk permasalahannya maka sang Sawunggaling merasa berterimakasih pada adipati Cakraningrat.


Di bawah Sawunggaling Kadipaten Surabaya berhasil memukul mundur Jendral De Boor wakil penguasa Belanda dan tentara Belanda dari wilayah Surabaya.


Sumber Cerita : ericktristanto.wordpress.com

3 komentar:

~(‾▿‾~) Pengunjung Blog yang baik akan selalu meninggalkan Jejaknya (~‾▿‾)~